Cara Menjurnal Uang Lembur Karyawan
Uang Lembur adalah kompensasi yang dibayarkan perusahaan kepada karyawan atas pekerjaan yang dilakukan melebihi waktu kerja normal, sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam pembukuan, uang lembur pada umumnya dicatat sebagai beban karyawan atau beban gaji, bukan sebagai utang pribadi karyawan.
Table of Contents:
Contoh Kasus
Karyawan bekerja lembur dan memperoleh:
Gaji: Rp8.000.000
Uang lembur: Rp1.000.000
PPh 21: Rp300.000
Gaji dan lembur dibayarkan melalui bank
Total penghasilan bruto:
Rp8.000.000 + Rp1.000.000 = Rp9.000.000
Jumlah yang diterima karyawan:
Rp9.000.000 - Rp300.000 = Rp8.700.000
Angka PPh 21 di atas hanya contoh untuk menjelaskan mekanisme jurnal, bukan perhitungan pajak aktual.
Saat Gaji dan Lembur Diakui
Jika perusahaan mengakui kewajiban terlebih dahulu:
DR Beban Gaji: Rp8.000.000
DR Beban Lembur: Rp1.000.000
CR Utang Gaji: Rp8.700.000
CR Utang PPh 21: Rp300.000
Total Debit = Rp9.000.000
Total Kredit = Rp9.000.000
Beban lembur dapat dibuat sebagai akun terpisah agar perusahaan dapat melihat berapa biaya yang timbul khusus dari lembur.
Saat Gaji dan Lembur Dibayar
Pembayaran kepada karyawan:
DR Utang Gaji: Rp8.700.000
CR Bank: Rp8.700.000
Pembayaran PPh 21:
DR Utang PPh 21: Rp300.000
CR Bank: Rp300.000
Jika Langsung Dibayar
Jika perusahaan langsung membayar gaji dan lembur tanpa mencatat utang terlebih dahulu, jurnal dapat dibuat:
DR Beban Gaji: Rp8.000.000
DR Beban Lembur: Rp1.000.000
CR Bank: Rp8.700.000
CR Utang PPh 21: Rp300.000
Yang penting, pencatatan tetap menunjukkan:
Beban lembur + kewajiban pajak + jumlah yang benar-benar dibayarkan.
Akun Uang Lembur Harus Terpisah?
Tidak selalu.
Perusahaan dapat menggunakan Beban Gaji dan Upah
atau membuat akun yang lebih detail:
- Beban Gaji
- Beban Lembur
- Beban Tunjangan
- Beban Bonus
Akun terpisah membantu manajemen mengetahui berapa besar biaya lembur yang terjadi setiap periode.
Kesalahan yang Sering Terjadi
- Uang lembur langsung dicatat sebagai beban tanpa memperhitungkan kewajiban yang masih harus dibayar.
- Uang lembur dicatat dua kali, saat pengakuan dan saat pembayaran.
- Potongan PPh 21 dianggap sebagai tambahan beban perusahaan, padahal hanya merupakan pajak yang dipotong dari penghasilan karyawan, jika memang mekanismenya demikian.
- Tidak memisahkan uang lembur dari komponen penghasilan lain sehingga sulit menganalisis biaya tenaga kerja.
Tips Pencatatan Agar Rapi
- Simpan dasar perhitungan lembur setiap karyawan.
- Pastikan periode lembur sesuai dengan periode penggajian.
- Bedakan antara beban lembur dan utang lembur.
- Jika pajak dipotong dari penghasilan karyawan, catat sebagai utang pajak sampai disetorkan.
- Gunakan akun yang konsisten agar biaya lembur dapat dibandingkan antarbulan.